Rabu, 23 Maret 2016

USTADZ AL HABSYI

Biodata Ustad Al Habsyi

Membahas Profil dan Biodata Ustad Ahmad Al Habsyi. Bagi kalian yang suka ceramah Ustad Al Habsyi di TV pasti penasaran dengan profil dan biodata Ustad Al Habsyi yang pada bulan Ramadhan hampir setiap hari Ustad Al Habsyi memberikan ceramah di acara TV. Lagu Ustad Al Habsyi yang berjudul Salam Bagi Nabi banyak disukai. Ya, memang Ustad Al Habsyi termasuk salah satu Ustad populer di Indonesia. Kepopuleran Ustad Al Habsyi sebagai Ustad kondang memang bukanlah Ustad Al Habsyi peroleh dengan instan. Kabarnya Ustad Al Habsyi sudah menjadi Mubaligh cilik sejak umur Ustad Al Habsyi masih muda.   

Ustad Al Habsyi memulai Dakwah atau ceramah saat remaja, kala itu Ustad Al Habsyi berdakwah ke Malaysia dan Singapore. Awal karir Ustad Al Habsyi berdakwah ke TV pada tahun 2005 silam. Ustad Ahmad Al Habsyi diminta oleh pihak SCTV untuk menjadi penceramah mengisi acara di Bulan Ramadhan. Bahkan kabarnya saat itu Ustad Al Habsyi pernah disandingkan dengan Ustad Jefri untuk berdakwah. Umur Ustad Al Habsyi saat ini sudah 33 tahun. Ustad Al Habsyi sudah menikah dengan Putri Aisyah Aminah. Perikahan Ustad Al Habsyi dan istri sudah dikeruniahi seorang anak. Inilah foto Ustad Ahmad Al Habsyi da Istrinya.
Ustad Al Habsyi dan Istri
Memang sudah hampir semua stasiun TV pernah meminta Ustad Al Habsyi untuk berceramah. Ustad Al Habsyi adalah Ustad berkelahiran Palembang yang lahir pada tanggal 17 Mei 1980. Akun Twitter Ustad Ahmad Al Habsyi adalah @ustad_alhabsyi. Bagi Anda yang belum follow Twitter Ustad Al Habsyi, Anda bisa Follow Twitter Ustad Al Habsyi yang saat ini Followersnya sudah sekitar 68ribu. Aktivitas terbaru Ustad Al Habsyi saat ini akan terbang ke Ambon, Makasar dan Jakarta untuk berdakwah. Saudaraku ingin tau Profil dan Biodata Ustad Ahmad Al Habsyi? Berikut ini profil dan Biodata Ustad Al Habsyi Saudaraku. 

Profil Biodata Ustad Al Habsyi:
Nama Lengkap : Ahmad Al Habsyi
Tempat lahir : Palembang
Tanggal lahir : 17 Mei 1980 
Agama : Islam
Pekerjaan : Ustad, Pendakwah
Twitter : @ustad_alhabsyi
Istri : Putri Aisyah Aminah

Ustad Ahmad Al Habsyi
Terima kasih banyak saudaraku sudah membaca profil dan biodata Ustad Ahmad Al Habsyi. Semoga artikel tentang profil dan biodata Ustad Al Habsyi bermanfaat untuk kalian Saudaraku. 

USTADZ KOKO LIEM

 USTADZ KOKO LIEM

Ketertarikannya terhadap Islam pun tumbuh. Lime kecil selalu hadir dalam perayaan hari besar Islam di sekolah. Meski demikian, Liem tetap menjalankan kewajibannya untuk menyembah Pey Pekkong bersama keluarganya.

Perasaan berkecamuk dalam diri Liem kian tumbuh ketika dirinya mendengar suara adzan setiap hari. Perasaan itu kian menjadi ketika mendengar takbir menjelang Idul Fitri. Bahkan, ia mengaku takbir yang ia dengar sewaktu kecil begitu merasuk dalam sanubarinya hingga menghadirkan setetes air mata.

Menginjak SMP, Liem yang diterima masuk SMP Syeikh Umar, Dumai Riau,tetap melanjutkan pergaulannya dengan Islam melalui kebiasaanya mengikuti pelajaran agama Islam. Liem yang beranjak dewasa, begitu kagum dengan kisah keimanan Nabi Ibrahim AS.

Kegundahan hati yang kian besar, membuat dirinya bertanya pada sang kakak, Liem Hai Seng. Kakak Liem yang juga muallaf dan mengganti namanya menjadi Muhammad Abdul Nashir ini menyarankan kepada sang adik untuk mengikuti kata hatinya. 

Liem mengaku mendapatkan hidayah untuk memeluk Islam pada usia 15 tahun atau tepatnya 21 Juli 1994. Liem yang haus akan agama barunya tak ragu untuk mendalami. Ia kemudian memutuskan ikut seorang guru yang nantinya menyarankan Liem untuk berdakwah.

"Setelah masuk islam, saya harus menerima kenyataan pahit, saya terusir dari orang-orang yang saya sayangi. Saya mencoba pulang, namun diusir, begitu seterusnya. Tapi tidak pernah terbersit rasa benci terhadap keluarga saya," ungkap Liem ketika ditemui dalam sebuah acara di Jakarta kamis lalu.

Setelah diusir, dia diasuh oleh seorang ulama Riau bernama KH. Ali Muchsin. Pengasuh Pondok Pesantren Jabal Nur di Kandis, Riau itulah yang mendorong tekadnya untuk menjadi da’i. Usai lulus SMP, Liem yang berganti nama menjadi Muhammad Utsman Ansori melanjutkan pendidikannya ke Pondok Pesantren Daar El Qolam, Balaraja, Banten pada 1995 hingga 1999. "Saya ingin mengenal Islam dengan menjadi penghafal Quran, Alhamdulillah, di tahun kedua saya memeluk Islam, saya sudah hafal Quran," Ungkapnya.

Selesai belajar dari Pondok Pesantren Daar El Qolam, Balaraja Banten, dia kembali melanjutkan di Pondok Pesantren Tahfizul Qur’an Raudhatul Muhsinin, Malang Jawa Timur. Pada tahun 2001, Liem melanjutkan studinya ke Fakultas Tarbiyah, Jurusan Pendidikan Agama Islam Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Lebak bulus Ciputat hingga lulus 2005. Ia kembali melanjutkan studinya mengambil gelar master pada 2005-2008 di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) dengan mengambil Jurusan Konsentrasi Ilmu Tafsir.

Pada tahun  2001, Koko Liem dianugerahi jodoh dan menikah dengan Ima Ismawati, S.Thi (alumni Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta, Jurusan Tafsir Hadits). Dari pernikahannya tersebut, Lim kini dikaruniai dua orang putri yang diberi nama Isyah Mardhiyyah Ustman (Tasya Liem) & Syahda Al Ghina Utsman (Syahda Liem).

Giat Berdakwah

Sesuai dengan latar ilmu yang didalaminya, Liem yang sedari awal memutuskan menjadi pendakwah mulai belajar berdakwah di bangku kuliah. Setelah itu, Liem memutuskan untuk mengikuti ajang kompetisi Da'i di salah satu stasiun Televisi Swasta di tanah air.

Meskipun berhasil menjadi finalis, Koko Liem gagal menembus lima besar ajang tersebut. Sejak saat itu, kesempatan dakwahnya justru makin besar karena sudah banyak orang mengenalnya. Banyak pihak yang memanggilnya untuk mengisi ceramah di pengajian-pengajian. Liem pun sering mengisi ceramat diberbagai acara di televisi dan radio.

Liem mempunyai gaya yang khas ketika berdakwah. Dengan berbalut baju tradisional china, Liem tak malu menonjolkan identitasnya sebagai keturunan etnis Tionghoa. Bahkan disetiap dakwahnya, ia selalu menyisipkan Bahasa Mandarin.

Lewat mimiknya yang jenaka, Liem selalu melontarkan banyolan yang membuat jamaahnya begitu antusias mendengarnya. "Saya ini orang Tionghoa bu dengan ciri khas mata yang sipit. Jadi, kalau ibu mengatakan mata saya belo, berarti itu fitnah bu," candanya kepada jamaahnya.

USTAD SYAMSUDIN NUR

Instagram photo by syamsuddin_nur - Smile is the best breakfast. Bismillaaah...Image result for profil ustad syamsuddin nurImage result for profil ustad syamsuddin nur

USTADZ MAULANA


Biografi Lengkap Ustadz Muhammad Nur Maulana

Biografi Ustadz Muhammad Nur Maulana – Sahabat Sekalian pada kesempatan Kali ini Kata Ilmu ingin menulis sedikit tentang Biografi Ustadz Muhammad Nur Maulana. Ustadz Maulana yang merupakan Dai “gaul” kelahiran makassar ini boleh dikata unik, Jenaka, murah senyum dan cepat akrab dengan siapa saja, baik terhadap anak-anak, remaja, orangtua, maupun pejabat adalah karakternya. 
Berikut ini Biografi Muhammad nur Maulana:
Ustadz Muhammad Nur Maulana
  • Nama: Muhammad Nur Maulana
  • KlLahiran: Makassar, 20 September 1974
  • Anak ke: keempat dari tujuh bersaudara
  • Ayah: Maulana
  • Ibu: Masyita
  • Pendidikan: Pesantren An Nahdah Makassar (lulus 1994)
  • Pekerjaan: Guru Agama Islam SD Mangkura; Guru SD Islam Athirah dan Pesantren An Nahdah
  • Istri: Nur Aliah
  • Anak: Munawar
  • Alamat Rumah: Jl Sibula Dalam No 15, Makassar Sulawesi Selatan. 
Ustadz Muhammad Nur Maulana Sejak tiga tahun terakhir ini mengaku jadwal dakwahnya makin padat. Sehari, ia kadang menghadiri empat undangan untuk berdakwah di lokasi berbeda. Tidak hanya di masjid, ia juga biasa memberi dakwah di rumah-rumah warga, sekolah, hingga di kantor-kantor pemerintah dan swasta. 


Mereka yang mengundangnya pun tak hanya berasal dari Makassar, Gowa, dan Maros. Tapi juga banyak yang datang dari daerah-daerah yang jauh dari Makassar semisal, Kabupaten Morowali di Sulawesi Tengah dan Kendari di Sulawesi Tenggara.


"Bahkan beberapa kali saya menghadiri undangan untuk berdakwah di Kalimantan seperti di Samarinda, Tarakan, dan Balikpapan. Biasa juga diundang ke Kaimena di Irian Barat. Umumnya yang mengundang dari Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan yang ada di daerah tersebut," tuturnya. 


Dalam memenuhi undangan, ayah Munawar ini mengaku tak pernah pilih-pilih. "Prinsip saya, siapa undangannya yang lebih dulu tiba dan saya catat, maka itulah yang saya prioritaskan lebih awal menghadirinya," tuturnya sembari memperlihatkan buku diari yang digunakannya mencatat jadwalnya untuk dakwah, sebuah buku saku yang terlihat sudah lusuh dan telah buram. Nur Maulana menceritakan, ia mulai berdakwa sejak usia 14 tahun saat masih duduk di SMP DDI Galesong Beru, Makassar. Aktivitas berdakwahnya pun makin terasah saat menjadi santri di Pondok Pesantren An Nahdah (setingkat SMA), Makassar.

"Di pesantren inilah saya banyak belajar dengan pimpinan pondok pesantren, KH Muhammad Harizah. Di pesantren ini pula saya mendapat jodoh yang kini menjadi istri saya," ujar pria yang menikahi Nur Aliah pada 8 Agustus 2008 lalu ini. Selain pelajaran dari pesantren, Nur Maulana mengaku banyak belajar tentang Islam melalui buku-buku Islam, media massa, dan beragam literatur lainnya.Sedangkan humor-humor yang kerap diselipkan di sela-sela dakwahnya, diperolehnya dari membaca koran, majalah, dan televisi.


Mau menikmati siraman rohani khas ustadz Muhammad Nur Maulana??? Simak di salah satu stasiun TV swasta nasional, karena ustadz “gaul” ini secara rutin memberikan siraman rohani yang diselingin dengan kelucuan-kelucuan khas Ustadz Muhammad Nur Maulana.

USTADZ JEFRI AL BUKHORI ( ALM )



Jefri Al Buchori


Jeffry Al-Buchori
3cbec1776f1e4be05dacef0e2efb3748 1.jpg
Jeffry Al Buchori
Tanggal lahir 12 April 1973
Bendera Indonesia Jakarta
Meninggal 26 April 2013 (umur 40)
Bendera Indonesia Jakarta
Kebangsaan Indonesia
Nama lain Uje
Pekerjaan Penceramah, penyanyi salawat
Agama Islam
Pasangan Pipik Dian Irawati
Anak Adiba Khanza Az-Zahra
Abidzar Al Ghifari
Ayla Azuhro
Attaya Bilal Rizkillah
Orang tua H. Ismail Modal
Dra. Hj. Tatu Mulyana
Jefri Al Buchori atau lebih dikenal sebagai Ustad Uje (lahir di Jakarta, 12 April 1973 – meninggal di Jakarta, 26 April 2013 pada umur 40 tahun) adalah seorang pendakwah (ustad), penyanyi, dan aktor

Pendidikan dan kehidupan pribadi

Jefri Al-Buchori lahir di Jakarta, anak ketiga dari Ayah, Ismail Modal (alm) yang berdarah Maluku dan Ibu, Tatu Mulyana. [1] Berdasarkan wawancaranya dengan Gatra, masa kecilnya dihabiskan di daerah Pangeran Jayakarta di mana lingkungan sekitarnya terdapat banyak bar dan diskotek.[3] Jefri tidak pernah merasakan kelas 4 sekolah dasar karena pada saat bersekolah di SD 07 Karang Anyar, ia lompat kelas dari kelas 3 ke kelas 5.[3] Sejak kecil ia telah menunjukkan ketertarikan pada mata pelajaran agama dan kesenian.[3] Setamat SD, Jefri dan kedua kakaknya bersekolah di Pesantren modern di Daar el Qolam Gintung, Balaraja, Tangerang,[1] namun ia hanya mengikuti pendidikan selama empat tahun dari enam tahun syarat lulus[3] dan pindah sekolah ke Madrasah Aliyah karena perilaku yang tidak terpuji.[2] Sejak kecil Jefri telah menunjukkan bakat untuk tampil dengan meraih prestasi MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran) hingga tingkat provinsi.[1]
Masa mudanya kerap diidentikkan dengan narkoba, disko, dan bermain bola bilyar.[3] "Gue itu dulu dutanya setan di dunia" - pengakuannya pada saat wawancara.[3] Selepas Madrasah (setingkat SMA) ia melanjutkan pada akademi Broadcasting di Rawamangun, Jakarta - namun tidak selesai kuliah dikarenakan lebih mementingkan bermain bilyar.[3]
Sebagai pecandu narkoba, Jefri bertemu dengan Pipik Dian Irawati yang dikenal sebagai model gadis sampul majalah Aneka tahun 1995 asal Semarang, Jawa Tengah dan menikah siri pada 7 September 1999. Pernikahan ini kemudian diresmikan di Semarang dua bulan kemudian.[3] Pasangan ini dikaruniai tiga orang anak, Adiba Khanza Az-Zahra, Mohammad Abidzar Al-Ghifari, dan Ayla Azuhro.[3] Beberapa tahun kemudian, lahir anak keempat Jefri, yaitu Attaya Bilal Rizkillah.

Karier

Aktor dan penari

Karier sebagai aktor bermula dari kegemaran Jefri menyambangi Institut Kesenian Jakarta dan mengikuti hingga menggantikan pemain sinetron yang sedang latihan, sampai akhirnya mengikuti pemilihan pemain dan mendapat peran.[1] Ia juga menjadi penari di sebuah kelab malam. [1] Pada tahun 1991 Jefri mendapatkan peran pada sinetron Pendekar Halilintar di TVRI, dan pada tahun 1991 terpilih sebagai pemeran pria terbaik dalam Sepekan Sinetron Remaja Sayap Patah yang ditayangkan TVRI. [3] [1]

Penceramah, trend busana, dan penyanyi

Kariernya di bidang dakwah dimulai pada tahun 2000 saat menggantikan kakaknya yang menjadi imam di sebuah masjid di Singapura.[3] Pekerjaan kakaknya untuk memberikan khotbah di masjid-masjid dekat rumah di wilayah Pangeran Jayakarta, Jakarta diberikan pada Jefri.[3] Pertama kali menerima honor dari pekerjaan mendakwah berasal dari sebuah masjid di bilangan Mangga Dua sebesar 35 ribu rupiah.[3] Pada satu kesempatan saat menjadi imam, jamaah masjid bubar menolak dipimpin oleh tukang mabok.[3]
Jefri sebagai pendakwah mulai dikenal orang secara luas pada tahun 2002 untuk ceramah dan doa dalam acara "Salam Sahur (Salsa)" di TV7, dan dikontrak untuk acara yang sama pada tahun berikutnya.[3] Pada tahun 2004 ia mengisi acara Tausiah di TPI dan tujuh episode acara "Kumis Remaja" setiap Minggu pagi.[3]
Pada awalnya Jefri sempat berpakaian gamis panjang lengkap dengan sorban, namun menggantinya karena berpikir bahwa segmennya remaja dan tidak cocok untuk pakaian tersebut.[3] Jefri pun populer dengan baju koko nya dan menjadi merek dagang umum sebagai daya jual pedagang untuk mempopulerkan baju tersebut.[3]
Pada tahun 2005 kegiatan ceramahnya mencapai tiga sampai empat kali dalam sehari dan pengajian rutin "I Like Monday" di rumahnya dengan jemaah tetap.[3] Pada tahun yang sama ia diminta memberikan ceramah di Istana Negara di mana salah satu penggemarnya adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.[3]
Juga pada tahun 2005 Jefri meluncurkan album rohani "Lahir Kembali" yang komersial, kemudian pada tahun 2006 ia meluncurkan album keduanya "Shalawat" di mana ia berduet dengan istrinya Pipik Dian Irawati dalam dua lagu; "Shalawat Badar" dan "Thola`al Badru". [4] Pada tahun 2007 Jefri juga pernah berkolaborasi dalam lmini album Ungu (yang hanya berisi lima lagu) "Para Pencari-Mu" dalam lagu "Surga Hati".[5] [6] Pada tahun 2009 ia tampil langsung berduet pada Tabligh Akbar dan Konser Musik Religi Ungu di Cilegon, Jawa Barat yang dihadiri ribuan penonton. [5] [6]

Meninggal dunia

Uje meninggal dunia dalam usia 40 tahun pada tanggal 26 April 2013 dalam sebuah kecelakaan tunggal di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, pada pukul 2 waktu setempat. Ia menabrak pohon setelah kehilangan kendali atas Kawasaki ER-6n bernopol B 3590 SGQ yang sedang dikendarai.[7] [8] [9] [10]
Ia sempat dirujuk ke Rumah Sakit Pondok Indah dan Rumah Sakit Fatmawati, namun nyawanya tidak tertolong.[11][12] Selanjutnya, jenazah Uje dibawa ke rumah duka di Perum Bukit Mas, Jalan Narmada III, Rempoa, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Ustadz Jeffry dimakamkan di TPU Karet Bivak, Tengsin, Jakarta Pusat setelah sebelumnya disalatkan di Masjid Istiqlal.[13]