USTADZ KOKO LIEM
Ketertarikannya terhadap Islam pun tumbuh. Lime kecil selalu hadir dalam
perayaan hari besar Islam di sekolah. Meski demikian, Liem tetap
menjalankan kewajibannya untuk menyembah Pey Pekkong bersama
keluarganya.
Perasaan berkecamuk dalam diri Liem kian tumbuh
ketika dirinya mendengar suara adzan setiap hari. Perasaan itu kian
menjadi ketika mendengar takbir menjelang Idul Fitri. Bahkan, ia mengaku
takbir yang ia dengar sewaktu kecil begitu merasuk dalam sanubarinya
hingga menghadirkan setetes air mata.
Menginjak SMP, Liem yang
diterima masuk SMP Syeikh Umar, Dumai Riau,tetap melanjutkan
pergaulannya dengan Islam melalui kebiasaanya mengikuti pelajaran agama
Islam. Liem yang beranjak dewasa, begitu kagum dengan kisah keimanan
Nabi Ibrahim AS.
Kegundahan hati yang kian besar, membuat
dirinya bertanya pada sang kakak, Liem Hai Seng. Kakak Liem yang juga
muallaf dan mengganti namanya menjadi Muhammad Abdul Nashir ini
menyarankan kepada sang adik untuk mengikuti kata hatinya.
Liem
mengaku mendapatkan hidayah untuk memeluk Islam pada usia 15 tahun atau
tepatnya 21 Juli 1994. Liem yang haus akan agama barunya tak ragu untuk
mendalami. Ia kemudian memutuskan ikut seorang guru yang nantinya
menyarankan Liem untuk berdakwah.
"Setelah masuk islam, saya
harus menerima kenyataan pahit, saya terusir dari orang-orang yang saya
sayangi. Saya mencoba pulang, namun diusir, begitu seterusnya. Tapi
tidak pernah terbersit rasa benci terhadap keluarga saya," ungkap Liem
ketika ditemui dalam sebuah acara di Jakarta kamis lalu.
Setelah
diusir, dia diasuh oleh seorang ulama Riau bernama KH. Ali Muchsin.
Pengasuh Pondok Pesantren Jabal Nur di Kandis, Riau itulah yang
mendorong tekadnya untuk menjadi da’i. Usai lulus SMP, Liem yang
berganti nama menjadi Muhammad Utsman Ansori melanjutkan pendidikannya
ke Pondok Pesantren Daar El Qolam, Balaraja, Banten pada 1995 hingga
1999. "Saya ingin mengenal Islam dengan menjadi penghafal Quran,
Alhamdulillah, di tahun kedua saya memeluk Islam, saya sudah hafal
Quran," Ungkapnya.
Selesai belajar dari Pondok Pesantren Daar El
Qolam, Balaraja Banten, dia kembali melanjutkan di Pondok Pesantren
Tahfizul Qur’an Raudhatul Muhsinin, Malang Jawa Timur. Pada tahun 2001,
Liem melanjutkan studinya ke Fakultas Tarbiyah, Jurusan Pendidikan Agama
Islam Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Lebak bulus Ciputat hingga
lulus 2005. Ia kembali melanjutkan studinya mengambil gelar master pada
2005-2008 di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) dengan mengambil
Jurusan Konsentrasi Ilmu Tafsir.
Pada tahun 2001, Koko Liem
dianugerahi jodoh dan menikah dengan Ima Ismawati, S.Thi (alumni
Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta, Jurusan Tafsir Hadits). Dari
pernikahannya tersebut, Lim kini dikaruniai dua orang putri yang diberi
nama Isyah Mardhiyyah Ustman (Tasya Liem) & Syahda Al Ghina Utsman
(Syahda Liem).
Giat Berdakwah
Sesuai
dengan latar ilmu yang didalaminya, Liem yang sedari awal memutuskan
menjadi pendakwah mulai belajar berdakwah di bangku kuliah. Setelah itu,
Liem memutuskan untuk mengikuti ajang kompetisi Da'i di salah satu
stasiun Televisi Swasta di tanah air.
Meskipun berhasil menjadi
finalis, Koko Liem gagal menembus lima besar ajang tersebut. Sejak saat
itu, kesempatan dakwahnya justru makin besar karena sudah banyak orang
mengenalnya. Banyak pihak yang memanggilnya untuk mengisi ceramah di
pengajian-pengajian. Liem pun sering mengisi ceramat diberbagai acara di
televisi dan radio.
Liem mempunyai gaya yang khas ketika
berdakwah. Dengan berbalut baju tradisional china, Liem tak malu
menonjolkan identitasnya sebagai keturunan etnis Tionghoa. Bahkan
disetiap dakwahnya, ia selalu menyisipkan Bahasa Mandarin.
Lewat
mimiknya yang jenaka, Liem selalu melontarkan banyolan yang membuat
jamaahnya begitu antusias mendengarnya. "Saya ini orang Tionghoa bu
dengan ciri khas mata yang sipit. Jadi, kalau ibu mengatakan mata saya
belo, berarti itu fitnah bu," candanya kepada jamaahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar